Senin, 23 Desember 2013

Faktor-faktor Terjadinya Rupture Perineum pada Persalinan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rupture perenium adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir, baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Robekan perenium umumnya terjadi pada garis tegah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lerlalu cepat fleksi. Robekan perenium pada hampir semua primipara (Wiknjosastro, 2002).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masing-masing adalah 373/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1995) serta 60/1000 kelahiran hidup (Susenas 1995), maka pada tahun 2003 AKI turun menjadi 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2003), sedangkan AKB turun menjadi 37/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2003). Sementara itu, umur harapan hidup rata-rata meningkat dari 63,20 tahun pada tahun 1995 menjadi 66,2 tahun pada tahun 2003 (SDKI, 2003).
Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Pada seorang primipara atau orang yang baru pertama kali melahirkan ketika terjadi peristiwa "kepala keluar pintu". Pada saat ini seorang primipara biasanya tidak dapat tegangan yang kuat ini sehingga robek pada pinggir depannya. Luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Sebagai akibat persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak (Prawirohardjo, 2001).
Indonesia membuat rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) untuk tahun 2001-2010, dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah dengan visi "Kehamilan dan Persalinan di Indonesia Berlangsung Aman, serta yang Dilahirkan Hidup dan Sehat," dengan misinya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saiffudin, 2002).
Ruptur Perineum dapat terjadi karena adanya ruptur spontan maupun episiotomi. perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan (Prawirohardjo, 2001).
Paritas, jarak kelahiran dan berat badan lahir, riwayat persalinan yang mencakup ekstraksi cunam, ekstraksi vakum dan episiotomi. Paritas mempunyai pengaruh terhadap kejadian rupture perineum. Jarak kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan janin. Berat badan janin 3500 gram, resiko trauma partus melalui vagina seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu (Wiknjosastro, 2002).
Dari 18 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bireuen terdapat 6 Puskesmas yang ada pertolongan persalinan terdapat hampir 88% kejadian rupture perineum baik pada primi gravida maupun multi gravid (Dinkes Bireuen, 2011).
Berdasarkan hasil data prasurvey, angka kejadian rupture perineum spontan yang dialami ibu primigravida di Puskesmas Gandapura tahun 2010 masih sangat tinggi yaitu sebanyak 41 orang (65%) dari 63 persalinan normal. Sedangkan yang tidak mengalami rupture perineum berjumlah 22 orang.(PKM GandaPura,2011)
Berdasarkan data tersebut penulis tertarik untuk mengetahui Faktor- faktor terjadinya  Ruptur perineum pada Persalinan di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.

1.2  Rumusan Masalah
           Perumusan masalah dalam penulisan proposal ini adalah bagaimana Faktor-faktor Terjadinya Rupture Perineum pada Persalinan di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
            Untuk mengetahui Faktor-faktor Terjadinya Rupture Perineum pada Persalinan di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.
1.3.2   Tujuan Khusus
a.     Untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya rupture perineum pada persalinan karena paritas di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.
b.     Untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya rupture perineum pada persalinan karena jarak kelahiran di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.
c.     Untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya rupture perineum pada persalinan karena berat badan bayi di Puskesmas Gandapura Kabupaten Bireuen Tahun 2011.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1   Untuk Bidan
                    Memberikan informasi kepada bidan agar dapat melakukan pencegahan terhadap rupture perineum pada persalinan.
1.4.2   Untuk Puskesmas Gandapura
                    Sebagai bahan masukan atau informasi dalam pencegahan terhadap rupture perineum pada persalinan.
1.4.3   Untuk Institusi Pendidikan
                    Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan perpustakaan.
1.4.4   Untuk Peneliti
                    Sebagai pengalaman nyata bagi penulis dalam proses penelitian tentang rupture perineum pada persalinan.

Download here 

0 comments

Posting Komentar